Diplomasi Prabowo di Tengah Xi, Putin, dan Kim Jong Un: Tersisih atau Strategis?
Beijing, Parade Militer Hari Kemenangan ke-80 awal September 2025 menghadirkan panggung geopolitik yang sarat simbol, Prabowo Subianto duduk sejajar dengan Xi Jinping, Vladimir Putin, dan Kim Jong Un—tiga tokoh yang selama ini jadi headline dunia. Secara visual, keempatnya menyaksikan kekuatan militer Tiongkok yang ditampilkan dalam skala masif. Namun, anehnya, dalam banyak pemberitaan internasional, wajah Prabowo justru menghilang, seolah ia tak pernah ada di sana. Kenapa seorang presiden Indonesia, negara dengan populasi 280 juta jiwa dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bisa ‘terhapus’ dari bingkai media internasional? Apakah ini sekadar persoalan teknis cropping, atau ada pesan geopolitik yang lebih dalam tentang bagaimana dunia memandang Indonesia?
Namun, menariknya, liputan media internasional—khususnya media besar seperti The Guardian—cenderung hanya menyoroti “trio” Xi, Putin, dan Kim. Dalam sejumlah foto, Prabowo bahkan terkesan “hilang” akibat cropping gambar, meski ia jelas hadir di barisan itu.
Fenomena ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan strategi framing yang mencerminkan cara media internasional membingkai geopolitik dunia.
1. Narasi Poros Anti-Barat
Media internasional ingin menegaskan sebuah gambaran: ada blok otoritarian yang menantang dominasi tatanan internasional liberal. Xi, Putin, dan Kim menjadi ikon paling mudah dipasangkan dengan narasi ini. Ketiganya dipandang sebagai representasi kekuatan yang berlawanan dengan kepentingan Barat.
Prabowo, dalam konteks ini, tidak pas dengan framing tersebut. Indonesia masih menganut prinsip “bebas aktif” dan tetap menjalin hubungan strategis dengan Barat, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa. Jika kehadirannya ditampilkan sejajar, narasi yang ingin dibangun media internasional bisa terlihat kabur.
2. Optik dan Simbolisme Foto
Dalam jurnalisme visual, foto bukan sekadar dokumentasi, melainkan konstruksi simbol. Gambar Xi–Putin–Kim sudah cukup kuat sebagai ikon geopolitik: tiga pemimpin otoriter berdiri berdampingan. Menambahkan Prabowo justru berpotensi mengacaukan simbolisme tersebut, karena Indonesia tidak secara eksplisit berada dalam kubu “anti-Barat”.
Dengan cropping, pesan visual menjadi lebih tajam: seolah dunia kini terbagi jelas antara Barat versus “trio Beijing–Moskow–Pyongyang”.
3. Hierarki Pemberitaan dan Relevansi Global
Media internasional juga bekerja dengan hierarki kepentingan. Tokoh seperti Putin dan Kim hampir selalu menjadi magnet berita karena rekam jejak konflik dan kontroversinya. Prabowo, meskipun memimpin negara demokrasi besar dengan populasi 280 juta jiwa, belum punya bobot simbolik sebesar itu di mata audiens global.
Hasilnya, kehadirannya diperlakukan sebagai side note—penting di kawasan, tetapi belum cukup relevan untuk menembus narasi utama.
4. Implikasi bagi Citra Indonesia di Mata Media Internasional
Di sinilah letak persoalan paling penting. Cropping atau penghilangan kehadiran Prabowo dalam pemberitaan bukan sekadar soal teknis, melainkan cerminan posisi Indonesia dalam lanskap geopolitik global. Bagi media internasional, Indonesia belum dianggap aktor kunci yang mampu menggeser arah percaturan politik dunia.
Padahal, Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, anggota G20, dan pemain utama dalam dinamika Asia Tenggara. Namun fakta bahwa media internasional lebih memilih “menghilangkan” Indonesia dari narasi besar ini menunjukkan bahwa posisi diplomasi Indonesia masih dipandang ambigu. Apakah Indonesia benar-benar ingin berdiri netral dengan prinsip bebas aktif, atau perlahan-lahan akan dianggap condong pada blok tertentu?
Kehadiran Prabowo di Beijing sebenarnya bisa dibaca sebagai peluang simbolik: menunjukkan bahwa Indonesia diundang ke panggung geopolitik kelas atas. Tapi tanpa pengakuan media internasional, pesan itu bisa hilang, atau bahkan dipelintir seolah Indonesia hanya hadir sebagai “figuran”. Ini berbahaya bagi citra global Indonesia, karena persepsi publik internasional sering dibentuk bukan dari apa yang benar-benar terjadi, melainkan dari apa yang diberitakan.
5. Membaca Pesan Media Internasional
Dari perspektif media internasional, cropping ini adalah cara membatasi kompleksitas geopolitik agar mudah dipahami audiens global. Alih-alih menampilkan empat pemimpin dengan latar belakang berbeda, lebih “efektif” untuk menyoroti tiga tokoh yang sudah melekat dalam narasi antagonistik Barat: Xi sebagai simbol kebangkitan Tiongkok, Putin sebagai wajah agresi Rusia, dan Kim sebagai lambang Korea Utara yang terisolasi.
Prabowo tidak termasuk dalam kerangka itu. Karena itu, ia “dipotong” dari visual. Ini bukan sekadar tentang dirinya, melainkan tentang bagaimana Indonesia belum mampu mengukir tempat yang jelas dalam narasi global. Media internasional secara halus mengirimkan pesan bahwa dunia masih melihat Indonesia sebagai kekuatan regional, bukan global.
Jika pola ini dibiarkan, Indonesia akan terus “hadir tanpa dianggap hadir”. Dalam diplomasi modern, ini bisa merugikan: kehadiran fisik pemimpin tidak menjamin pengakuan simbolik, dan tanpa pengakuan simbolik, peran Indonesia bisa dianggap minimal.
Pertanyaannya sekarang: apakah Indonesia akan terus puas dengan posisi sebagai penonton dalam narasi global, atau berani menegaskan dirinya sebagai aktor independen yang framing-nya tidak bisa semudah itu dipangkas oleh media internasional?
Keyword
Prabowo Beijing 2025, Prabowo Xi Putin Kim, Media internasional Prabowo, Prabowo diplomasi luar negeri
Reviewed by Atallah Daffa Jawahir
on
September 06, 2025
Rating:
.jpeg)